Yuk, Sukseskan Program Keluarga Berencana dengan Memilih Metode Kontrasepsi yang Tepat!

Apakah Anda pernah mendengar “2 anak lebih baik” atau “2 anak cukup”?

Ya, 2 kalimat slogan tersebut merupakan slogan pemerintah untuk suksesnya program Keluarga Berencana (KB).

Bagi Anda yang belum tahu, program KB ini adalah program dari pemerintah Indonesia yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup keluarga dengan cara mengatur jumlah anak, jarak kehamilan, usia pernikahan dan usia melahirkan yang ideal.

Mengapa Harus Ada Program Keluarga Berencana (KB)?

Program KB pernah sukses dijalankan di zaman orde baru, dan di tahun 2017 lalu, pemerintah mengumumkan hendak kembali menggalakkan program ini. Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Surya Chandra Surapaty mengungkapkan hal ini, seperti yang dilansir oleh situs CNN Indonesia.

“Perkembangan program Keluarga Berencana saat ini bukan saja untuk menurunkan angka kelahiran, tetapi juga mewujudkan bonus demografi yang berkualitas.” Demikian penjelasan dari Surya Chandra Surapaty.

Masih menurut penjelasan dari Surya Chandra Surapaty, saat ini angka kelahiran rata-rata, atau Total Fertility Rate (TFR) pasangan suami istri masih di angka 2.6, dari angka target 2.1 TFR yang harus dipenuhi. Angka ini ditargetkan oleh pemerintah tercapai di tahun 2025.

Lalu, apa yang dimaksud dengan bonus demografi yang berkualitas?

Bonus demografi yang diramalkan terjadi tahun 2020-2030 adalah jumlah usia angkatan kerja dengan usia 15-64 tahun mencapai 70%. Sedangkan 30% penduduk akan berusia tidak produktif, yaitu berusia 14 tahun ke bawah, dan 65 tahun ke atas.

Dengan keadaan demografi yang demikian, maka hal ini bisa jadi keuntungan bagi negara, dengan catatan kondisinya harus berkualitas, sehingga masalah masyarakat pun bisa ditekan.

Misalnya, seperti masalah kekerasan rumah tangga yang berisiko meningkat jika banyak keluarga yang belum sejahtera, selain bisa menambah jumlah pengangguran, serta tingkat pendidikan yang rendah.

Masalah-masalah tersebut bisa diatasi hanya jika keluarga Indonesia mencapai taraf sejahtera.

Salah satu cara untuk mencapai keluarga sejahtera adalah dengan menyukseskan program Keluarga Berencana, yaitu dengan penggunaan alat kontrasepsi dengan tepat, yang bermanfaat untuk mencegah kehamilan yang tidak diinginkan.

Data dari WHO sendiri mengungkapkan, bahwa di negara berkembang, sejumlah 214 juta perempuan yang tidak menginginkan kehamilan ternyata tak menggunakan alat kontrasepsi.

Padahal jika terjadi kehamilan yang tak dinginkan, maka pada akhirnya akan berujung pada aborsi yang tidak aman. Selain itu, juga berisiko meningkatkan angka kematian ibu dan anak.

Untuk mencegah hal tersebut, maka penggunaan alat kontrasepsi sangat diperlukan.

Mari Mengenal Metode Kontrasepsi untuk Menyukseskan Program Keluarga Berencana!

Banyak jenis kontrasepsi yang bisa dipergunakan dan disarankan oleh pemerintah. Namun, secara garis besar dibagi menjadi 2 jenis yaitu:

  1. Kontrasepsi hormonal

Kontrasepsi hormonal adalah metode kontrasepsi yang memengaruhi hormon. Contoh KB hormonal adalah pil KB, suntik KB, implan atau yang sering dikenal dengan susuk.

Berikut adalah kelebihan alat kontrasepsi hormonal:

  • Mencegah terjadinya kehamilan dengan cara menghambat hormon yang bertugas untuk melepas sel telur dari asalnya, sehingga sel telur tidak bisa berjumpa dengan sperma.
  • Mencegah kanker rahim
  • Mencegah terjadinya penyakit radang panggul
  • Mengurangi terjadinya keram saat mestruasi

Meski aman, namun alat kontrasepsi hormonal ini mempunyai efek samping, yaitu:

  • Peningkatan berat badan
  • Munculnya jerawat pada wajah
  • Memengaruhi perubahan suasana hati atau ‘mood changes
  1. Kontrasepsi nonhormonal

Kontrasepsi non hormonal adalah jenis kontrasepsi yang tidak memengaruhi kinerja hormon tubuh. Contoh IUD (intrauterine device), kondom, dan yang tradisional adalah menggunakan metode kalender.

Kelebihan dari kontrasepsi jenis non hormonal antara lain:

  • Mengurangi risiko kehamilan.
  • IUD bekerja dengan cara mengubah cairan rahim menjadi lebih kental, sehingga susah ditembus oleh sperma. IUD juga memiliki efek radang terhadap dinding uterus sehingga sel telur dan sperma yang bertemu dan tidak bisa tertanam di dinding rahim.
  • IUD terbukti bisa mencegah kanker rahim.
  • Tidak menimbulkan perubahan mood.
  • Alat kontrasepsi kondom bisa mencegah terjadinya infeksi menular seksual.

Sedangkan efek samping kontrasepsi nonhormonal adalah:

  • Kontrasepsi IUD bisa memperpanjang durasi menstruasi.
  • IUD juga bisa meningkatkan terjadinya keram saat menstruasi .
  • Ada peluang ketidaknyamanan saat bersenggama juga pada penggunaan IUD.
  • Efektivitas untuk KB tradisional seperti penggunaan kalender maupun kondom berkurang dari 80% jika penggunaannya tidak tepat, apalagi jika Anda adalah orang yang pelupa atau kurang cermat dalam mencatat hari-hari subur dan kurang subur.

Bagaimana Cara Menentukan Alat Kontrasepsi yang Tepat untuk Digunakan?

Perlu Anda ketahui, bahwa pemilihan penggunaan alat kontrasepsi tidak bisa terlepas dari riwayat penyakit Anda sendiri.

Misalnya, penggunaan pil KB tidak bisa digunakan untuk ibu yang punya riwayat kanker, merokok, hipertensi, maupun diabetes. Sedangkan IUD tidak bisa digunakan oleh ibu yang mempunyai riwayat infeksi pada alat kelamin.

Dengan demikian, sebelum memutuskan menggunakan salah satu alat kontrasepsi, ada baiknya Anda berkonsultasi dulu dengan dokter, bidan, ataupun petugas di layanan kesehatan terdekat.

Nah, setelah Anda membaca seluk beluk program Keluarga Berencana secara lengkap di atas, tentunya sekarang Anda sudah mendapatkan gambaran yang jelas mengenai jenis kontrasepsi ya?

Sudahkah Anda memutuskan akan menggunakan jenis kontrasepsi yang mana?

Credit Title

  • Penulis                 : Danica Elsa Natasha
  • Editor 1                : Putri Tiara Rosha,SKM.,MPH
  • Editor 2                : Fitri Handayani,S.Kep.,MPH
  • Content Writer  : Carolina N. Ratri
  • Redaktur 1          : dr. Fatwa Sari Tetra Dewi,MPH.,Ph.D
  • Redaktur 2          : dr. Fitriana,MSc.,FM

Referensi

  1. A, D. and KA, T. (1997). [Contraceptive methods: 2. Indications and suggestions for a choice]. – PubMed – NCBI. [online] Ncbi.nlm.nih.gov. Available at: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/12292718 [Accessed 20 Mar. 2018].
  2. Cooper DB, Adigun R. Oral Contraceptive Pills. [Updated 2017 Apr 20]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2018 Jan. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK430882/
  3. Family planning. (2018). [Geneva]: World Health Organization, Department of Reproductive Health and Research.
  4. FFPRHC Guidance (January 2004) The Copper Intrauterine Device as Long-term Contraception. (2004). Journal of Family Planning and Reproductive Health Care, 30(1), pp.29-41.
  5. World Health Organization. (2018). Family planning/Contraception. [online] Available at: http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs351/en/ [Accessed 20 Mar. 2018].
  6. Pemerintah Galakkan Lagi Program Keluarga Berencana https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20170426200152-255-210404/pemerintah-galakkan-lagi-program-keluarga-berencana Diakses 27 Maret 2018.

Mungkin Anda juga menyukai